Sekolah Di Pulau Bromo Ludes Terbakar, Siswa Sibuk Mengais Sisa Barang

oleh -1884 Dilihat
Teks foto. Para Siswa sibuk mengias sisa barang yang terbakar.

INIBERITA.id, BANJARMASIN- Sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTs) Byna Taqwa di Pulay Bromo luder terbakar dan sekarang tinggal puing-puiung serta bau gosongan masih tercium, dari sisa-sisa kebakaran  tersebut.

Dengan kebakaran itu, membuat dua siswi Anita dan Qonita, tampak sibuk mengais tumpukan buku yang hangus terbakar, dengan seragam olahraga sekolahnya, mereka berharap dapat menemukan sisa buku pelajaran yang masih bisa dipakai.

“Sepertinya sudah tidak ada, bukunya gosong terbakar,”ujar Anita, siswi kelas 8, dengan nada sedih, Senin (27/1/2025).

Selanjutnya, kedua siswi itu hanya bisa termenung dan melihat puing-puing sekolahnya  yang menjadi saksi keganasan api, pada Minggu (26/1/2025) malam tersebut.

Kebakaran itu tentunya menghanguskan, sebagian besar bangunan sekolah, hanya meninggalkan duka mendalam, bagi sebanyak 137 siswa yang menuntut ilmu, di satu-satunya sekolah menengah di pulau tersebut.

Garis polisi membentang di lokasi kejadian, sementara siswa lain terlihat mencari besi-besi yang bisa dijual untuk membantu biaya perbaikan sekolah. “Lumayan uangnya bisa bantu perbaikan sekolah,”ungkap salah satu siswa yang terus mengais sisa-sisa bangunan.

Kepala MTS Byna Taqwa Mukari mengatakan, sebanyak delapan ruangan inti, dari total 11 ruangan sekolah habis dilalap api, lima ruang belajar, satu ruang lab TIK, ruang dewan guru & TU, serta ruang kepala sekolah terbakar habis dan itu tidak ada yang bisa diselamatkan.

Dugaan awal, kebakaran dipicu korsleting listrik, di salah satu ruang kelas, api dengan cepat menyebar, ditambah angin kencang, membuat bangunan lain ikut terbakar, meskipun  dinding sekolag terbuat dari beton.

Bangunan sekolah nyaris rata dengan tanah, memastikan proses belajar mengajar akan tetap berlangsung, pihaknya akan bergabung dengan SD di samping sekolah ini.

“Untungnya masih satu yayasan. Jadi, sementara waktu, sistemnya akan bergantian atau shift-shiftan,”katanya.

Pemadaman api,menurutnya sempat terkendala, karena akses ke lokasi sangat sulit, jalan menuju sekolah hanya selebar dua meter, sehingga banyak pemadam yang datang lewat jalur air, titik api sulit dijangkau, apalagi saat itu angin kencang.

Tragedi ini, menjadi duka bagi seluruh warga Pulau Bromo, terutama para siswa yang kini harus beradaptasi dengan kondisi darurat,” Harapan kini tertuju pada bantuan dan solidaritas untuk membangun kembali sekolah yang menjadi satu-satunya tempat menimba ilmu mereka,”katanya.(lan/iniberita).