Tekan Kasus Hipertensi di Banjarmasin, Pemko Siapkan Anggaran Rp800 Juta pada 2027

oleh -607 Dilihat
Teks foto.Wali Kota Banjarmasin HM Yamin HR.

INIBERITA.id, BANJARMASIN – Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin mulai memperkuat langkah pencegahan dan pengendalian penyakit menyusul masih tingginya ancaman penyakit menular maupun tidak menular di tengah masyarakat.

Penyakit menular seperti tuberkulosis (TBC) dan HIV/AIDS masih membutuhkan perhatian serius. Sementara itu, penyakit tidak menular (PTM), seperti hipertensi dan diabetes melitus, juga menjadi persoalan kesehatan yang perlu diantisipasi secara berkelanjutan.

Kondisi tersebut mendorong Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarmasin menggelar Rapat Koordinasi, Advokasi, dan Sosialisasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) di Hotel Rattan Inn Banjarmasin, Rabu (4/11/2026).

Wali Kota Banjarmasin, HM Yamin HR, mengatakan pembangunan sektor kesehatan merupakan salah satu pilar penting dalam mewujudkan masyarakat yang sehat, produktif, maju, dan sejahtera.

Ia secara khusus menyoroti masih tingginya kasus hipertensi di Kota Banjarmasin. Menurutnya, persoalan tersebut harus menjadi perhatian bersama dengan memperkuat upaya pencegahan, deteksi dini, serta edukasi kepada masyarakat.

Sebagai bentuk keseriusan pemerintah daerah, Pemkot Banjarmasin berencana mengalokasikan anggaran sekitar Rp800 juta pada 2027 untuk penanganan hipertensi.

“Kasus hipertensi di tempat kita termasuk yang tinggi. Ini menjadi catatan penting. Pada 2027 mendatang, alokasi anggaran untuk penanganan hipertensi akan disiapkan sekitar Rp800 juta. Karena itu, sosialisasinya harus kita lakukan jauh lebih masif lagi di masyarakat,” ujar Yamin.

Ia berharap rapat koordinasi tersebut mampu memperkuat sinergi dan menyamakan persepsi seluruh pemangku kepentingan dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit.

Dengan demikian, berbagai program kesehatan dapat dilaksanakan secara lebih terarah, terintegrasi, dan berkelanjutan sesuai kebutuhan masyarakat.

“Kita berharap rapat koordinasi hari ini dapat memperkuat sinergi dan penyamaan persepsi seluruh pemangku kepentingan. Ini penting agar upaya pencegahan dan pengendalian penyakit di Kota Banjarmasin dapat berjalan lebih terarah dan berkelanjutan,” tuturnya. Sementara itu, Kepala Dinkes Kota Banjarmasin, Yanuar Diansyah, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi lintas sektor dalam pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian penyakit.

Menurutnya, terdapat dua sasaran utama yang ingin dicapai melalui kegiatan tersebut. Pertama, meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan melalui optimalisasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan di daerah, khususnya dalam pelaksanaan program P2P.

Upaya tersebut mencakup pencegahan dan penanganan berbagai penyakit, seperti demam berdarah dengue (DBD), serta potensi penyakit lainnya agar dapat ditangani secara cepat dan tepat.

“Kita ingin mengoptimalkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) kesehatan daerah melalui P2P, termasuk upaya pencegahan dan penanganan penyakit seperti DBD maupun potensi penyakit lainnya secara cepat dan tepat,” jelas Yanuar.

Kedua, kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat koordinasi lintas sektor, baik antarorganisasi perangkat daerah (OPD) maupun 28 puskesmas yang tersebar di Kota Banjarmasin.

Melalui koordinasi tersebut, diharapkan dapat disusun rencana aksi terpadu yang berlandaskan kondisi riil kesehatan masyarakat sehingga pelaksanaan program lebih efektif dan tepat sasaran.

“Selain itu, kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk penguatan koordinasi lintas sektor antar-SKPD maupun 28 puskesmas se-Kota Banjarmasin. Dengan demikian, kita bisa menyusun rencana aksi terpadu berdasarkan kondisi riil kesehatan masyarakat saat ini,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dinkes Kota Banjarmasin juga menyerahkan penghargaan kepada sejumlah puskesmas atas capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) terbaik sepanjang 2026 hingga Triwulan III.

Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi sekaligus motivasi atas dedikasi dan komitmen puskesmas dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas kepada masyarakat.

Adapun puskesmas penerima penghargaan berdasarkan kategori program, yakni:

1. Program Hipertensi: Puskesmas Pemurus Baru.
2. Program Diabetes Melitus: Puskesmas Sungai Andai.
3. Program Usia Produktif: Puskesmas 9 November.
4. Program Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ): Puskesmas Alalak Selatan.
5. Program TBC: Puskesmas Sungai Bilu.
6. Program HIV: Puskesmas Terminal.

Melalui penguatan koordinasi lintas sektor dan peningkatan kualitas pelayanan puskesmas, Pemkot Banjarmasin berharap upaya pencegahan dan pengendalian penyakit semakin optimal sehingga derajat kesehatan masyarakat terus meningkat. (silvi/iniberita)