Pemkab HST Tancap Gas Transformasi Pendidikan, Dua Inovasi Perkuat Daya Saing dan Identitas Banua

oleh -571 Dilihat
Foto Istimewa

INIBERITA.id, BARABAI – Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) memperkuat transformasi pendidikan melalui dua inovasi strategis, yakni Murakata Student Learning and Support Centre (MSLSC) dan BUTAH BAHARI HST (Bubuhan Revitalisasi Bahasa Daerah Banjar Lestari).

Kedua inovasi tersebut diluncurkan melalui Soft Launching MSLSC dan Launching BUTAH BAHARI yang digelar di Pendopo Bupati HST, Rabu (7/10/2026).

Langkah ini menjadi bagian dari upaya Pemkab HST memperluas akses pembelajaran, meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, sekaligus menjaga bahasa dan identitas daerah di tengah perkembangan zaman.

Bupati HST Samsul Rizal melalui Sekretaris Daerah HST M. Pajaruddin mengatakan, kedua inovasi tersebut memiliki peran berbeda, namun bermuara pada tujuan yang sama, yakni membangun ekosistem pendidikan yang lebih terbuka, adaptif, inovatif dan dekat dengan masyarakat.

“Dua ikhtiar ini hadir dengan peran yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama, yaitu membangun ekosistem pendidikan yang lebih terbuka, adaptif, inovatif, dan dekat dengan masyarakat,” ujar M. Pajaruddin saat menyampaikan pesan Bupati HST.

Menurutnya, MSLSC diarahkan untuk memperkuat akses pendidikan nonformal sekaligus meningkatkan kompetensi generasi muda, khususnya dalam penguasaan Bahasa Inggris.

Sementara BUTAH BAHARI menjadi ruang digital untuk mendokumentasikan pengetahuan, prestasi dan berbagai kegiatan revitalisasi Bahasa Banjar agar tetap hidup dan dekat dengan generasi muda.

Bupati berharap kedua inovasi tersebut dapat terus berkembang dan saling menguatkan. Generasi muda HST juga didorong memanfaatkan berbagai ruang pembelajaran untuk menjadi generasi yang unggul, terampil, berkarakter dan berdaya saing, tanpa kehilangan kecintaan terhadap daerah.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan HST Muhammad Anhar menjelaskan, LK Murakata SLSC dikembangkan untuk mengubah pola peningkatan kompetensi Bahasa Inggris dari sekadar pelatihan tahunan menjadi sebuah ekosistem dan kelembagaan yang berkelanjutan.

Program tersebut dibangun melalui kemitraan antara Pemkab HST, Briton English Education, dan Cambridge University Press & Assessment.

Program ini menargetkan peningkatan kompetensi 954 guru dari 250 SD, dari level A1 menuju CEFR B1/B2. Selain itu, dikembangkan pula English Club di 50 sekolah binaan, yang terdiri dari 33 SD dan 17 SMP.

Target tersebut disusun sebagai respons terhadap kondisi kompetensi Bahasa Inggris yang masih perlu diperkuat. Berdasarkan pemetaan CEPT, mayoritas guru masih berada di bawah kompetensi minimal A2.

Sementara itu, melalui program SBI Cambridge HST, baru sekitar 15 persen siswa yang mencapai target CEFR pada evaluasi Mei 2026.

“Yang kita dorong bukan sekadar pelatihan Bahasa Inggris, tetapi membangun ekosistem dan kelembagaan yang mampu mempercepat peningkatan kompetensi guru, memperluas akses masyarakat, sekaligus memiliki keberlanjutan secara kelembagaan dan pembiayaan,” jelas Anhar.

Tak hanya berorientasi pada peningkatan kompetensi, MSLSC juga diarahkan menuju kemandirian finansial melalui pengembangan berbagai layanan pendidikan.

Dalam lima tahun pertama, program tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan omzet lebih dari Rp8,1 miliar, dengan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) lebih dari Rp2,4 miliar.

Di sisi lain, BUTAH BAHARI hadir sebagai platform digital yang menghimpun dan mendokumentasikan berbagai kegiatan revitalisasi Bahasa Banjar.

Platform tersebut mencakup karya murid, guru dan masyarakat, data guru serta peserta, hingga para pemenang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI).

BUTAH BAHARI juga menyediakan ruang kreatif dan berbagai layanan digital, mulai dari laporan pengimbasan, publikasi karya, bimbingan teknis, pemberian apresiasi hingga penyampaian masukan dari masyarakat.

“Teknologi kita gunakan bukan untuk menggantikan budaya, tetapi untuk mendokumentasikan, memperluas akses dan memastikan bahasa daerah tetap hidup di tengah generasi muda,” kata Anhar.

Ia menegaskan, kedua inovasi tersebut dirancang untuk saling melengkapi. MSLSC memperkuat kompetensi dan daya saing global, sedangkan BUTAH BAHARI menjaga identitas lokal melalui pelestarian Bahasa Banjar.

“Pendidikan harus mampu membawa anak-anak HST menguasai bahasa asing, tetapi pada saat yang sama tetap mengenal dan menjaga bahasa daerahnya. Jadi, kita ingin membangun generasi yang memiliki daya saing global sekaligus kuat identitasnya,” pungkasnya. (s3/iniberita).