INIBERITA.id,BANJARMASIN – Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Selatan menggelar refleksi akhir tahun 2025 sebagai upaya evaluasi sekaligus penguatan langkah pencegahan radikalisme dan terorisme di daerah. Kegiatan yang mengusung tema “Meningkatkan Peran Serta Masyarakat dan Sinergi dalam Pencegahan Radikalisme dan Terorisme” ini diikuti puluhan wartawan di Banjarmasin, Jumat (19/12/2025) sore.
Ketua FKPT Kalimantan Selatan, Muhammad Fauzi Makki, menegaskan bahwa meningkatnya Indeks Potensi Radikalisme (IPR) di Kalimantan Selatan harus menjadi peringatan serius bagi seluruh pemangku kepentingan.
“Peningkatan IPR ini merupakan alarm dini. Pencegahan tidak bisa hanya dibebankan kepada aparat keamanan, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif pemerintah daerah, tokoh agama, pendidik, media, hingga keluarga,” tegas Fauzi Makki.
Berdasarkan data FKPT Kalsel, posisi Kalimantan Selatan dalam Indeks Potensi Radikalisme mengalami kenaikan signifikan. Pada 2022, Kalsel berada di peringkat ke-20 nasional, kemudian naik ke peringkat 15 pada 2024 dengan peningkatan skor sekitar 1,2 poin.
Menurut Fauzi, semakin tinggi peringkat IPR suatu daerah, maka semakin besar pula potensi risikonya. Karena itu, penguatan nilai-nilai kebangsaan dan moderasi beragama, khususnya di kalangan generasi muda, menjadi langkah yang tidak bisa ditunda.
Ia juga menyoroti tingginya intensitas aktivitas remaja di ruang digital. Hasil penelitian tahun 2024 menunjukkan bahwa remaja menghabiskan rata-rata hampir enam jam per hari di media sosial. Kondisi tersebut membuka celah masuknya konten bermuatan radikalisme yang kerap dikemas secara terselubung dan sulit dikenali.
Sementara itu, Kepala Bidang Penelitian dan Pengkajian FKPT Kalsel, Mukhdiansyah, menyampaikan bahwa sepanjang 2025 pihaknya telah menjalankan berbagai program pencegahan melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, serta pemangku kepentingan lainnya.
“Upaya pencegahan dilakukan melalui sosialisasi di lingkungan kampus seperti UIN Antasari, kegiatan kepemudaan, pelibatan media, serta pelaksanaan penelitian Indeks Risiko Terorisme (IRT) dan Indeks Potensi Radikalisme (IPR),” jelasnya.
FKPT Kalsel juga menggelar sosialisasi di tiga daerah, yakni Kabupaten Tanah Bumbu, Hulu Sungai Utara, dan Barito Kuala. Adapun penelitian IRT melibatkan enam institusi dan organisasi, di antaranya Polres, Kodim, Badan Intelijen Negara (BIN), Kesbangpol, serta organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.
Untuk penelitian IPR, responden melibatkan masyarakat umum di enam kabupaten/kota, yakni Tanah Bumbu, Balangan, Tapin, Kabupaten Banjar, Barito Kuala, dan Kota Banjarmasin.
“Hasil sampling ini akan dirilis secara resmi pada Februari atau Maret 2026 bersamaan dengan Rakornas BNPT,” ungkap Mukhdiansyah.
Senada, Kepala Bidang Media FKPT Kalsel, Zainal Helmi, menekankan pentingnya peran media dalam upaya pencegahan radikalisme melalui edukasi publik dan penguatan literasi digital.
“Pendekatan media dan literasi digital menjadi strategi krusial untuk menjangkau generasi muda yang aktif di ruang digital, agar tidak mudah terpapar paham radikalisme dan terorisme,” pungkasnya. (benk/iniberita).
