Kadis LH Dicopot, Krisis Sampah Banjarmasin Akhirnya Makan Korban Jabatan

oleh -1458 Dilihat
Teks foto. Mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kota Banjarmasin Alive Yoesfah Love saat hadiri pelantikan pergeseran

INIBERITA.id, BANJARMASIN- Permasalahan sampah di Kota Banjarmasin akhirnya memakan korban jabatan, dimana Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kota Banjarmasin Alive Yoesfah Love, resmi dicopot dari posisinya, setelah kinerjanya dalam penanganan sampah dinilai belum mampu menjawab persoalan yang terus berlarut.

Pergantian ini, menjadi sinyal tegas dari Wali Kota Banjarmasin H Muhammad Yamin HR yang tidak ingin polemik sampah terus berulang tanpa solusi konkret. Langkah rotasi ini, sekaligus menandai perubahan arah kebijakan, dalam penanganan salah satu persoalan paling krusial di Kota Seribu Sungai.

Dalam mutasi terbaru, Alive Yoesfah Love digeser menjadi Staf Ahli Wali Kota Bidang Infrastruktur, Sumber Daya Air dan Lingkungan Hidup. Sementara itu, kursi Kepala Dinas LH kini dipercayakan kepada Ichrom Muftezar, sebelumnya menjabat Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian.

Rotasi ini tak lepas dari tekanan publik yang semakin kuat, tumpukan sampah yang kerap terlihat di berbagai sudut kota, keterlambatan pengangkutan, hingga minimnya inovasi dan terobosan dalam sistem pengelolaan, membuat kinerja Dinas LH menjadi sorotan tajam masyarakat.

Isu sampah memang selama ini, menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung tuntas, bagi Pemerintah Kota Banjarmasin. Selain berdampak pada estetika kota, persoalan ini juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan lingkungan dan kualitas hidup warga.

Wali Kota H Muhammad Yamin HR menegaskan, pergantian pimpinan di Dinas LH diharapkan mampu membawa perubahan nyata dan mempercepat perbaikan sistem pengelolaan sampah di lapangan.

“Kita mengharapkan kinerja Kepala Dinas Lingkungan Hidup yang baru ini bisa lebih maksimal lagi. Pastinya juga harus saling berkoordinasi dengan kepala dinas yang lama, agar langkah- langkah yang bisa direalisasikan pada tahun ini dapat segera dijalankan,”tegasnya.

Kini, tantangan besar berada di pundak Ichrom Muftezar. Meski berasal dari latar belakang sektor perdagangan dan perindustrian, ia diharapkan mampu menghadirkan pola manajemen yang lebih efektif, khususnya dalam hal efisiensi sistem, penguatan pengawasan, serta pembenahan alur pengangkutan hingga pengolahan akhir sampah.

Namun, publik menilai pergantian figur semata tidak akan cukup. Kompleksitas persoalan sampah di Banjarmasin tidak hanya berkaitan, dengan teknis pengangkutan dan pengelolaan, tetapi juga menyangkut infrastruktur, kapasitas tempat pembuangan akhir, serta disiplin masyarakat dalam membuang dan memilah sampah.

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat kini tidak lagi hanya menunggu janji, melainkan bukti nyata bahwa perubahan di tubuh Dinas Lingkungan Hidup benar-benar mampu mengakhiri krisis sampah yang telah lama membayangi wajah kota.(silvi/iniberita)