INIBERITA.id, BANJARMASIN – Persoalan sampah kembali mencuat sebagai keluhan utama masyarakat dalam agenda reses anggota DPRD Kota Banjarmasin, HM Faisal Hariyadi. Dalam penyerapan aspirasi yang digelar di kawasan Jalan Soetoyo S, Gang Suryanata RT 16, Kelurahan Teluk Dalam, Kecamatan Banjarmasin Tengah, warga secara lugas menyuarakan keresahan mereka terhadap penanganan sampah yang dinilai belum optimal.
Reses yang menjadi momentum wakil rakyat turun langsung ke lapangan itu justru membuka fakta bahwa persoalan klasik kota, yakni sampah, masih menjadi “pekerjaan rumah” besar yang belum terselesaikan secara menyeluruh. Tumpukan sampah, keterbatasan armada pengangkut, hingga minimnya kesadaran sebagian warga menjadi sorotan utama dalam dialog tersebut.
Menanggapi hal itu, Faisal Hariyadi yang juga merupakan kader Partai Amanat Nasional (PAN) menegaskan bahwa penanganan sampah tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada Pemerintah Kota Banjarmasin. Ia menilai, selama ini ketergantungan terhadap petugas kebersihan atau yang dikenal sebagai “pasukan kuning” justru membuat partisipasi masyarakat menjadi lemah.
“Persoalan sampah ini tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah kota dengan pasukan kuningnya. Ada kepedulian yang sudah mulai tumbuh di masyarakat, khususnya di Kelurahan Teluk Dalam, dan ini harus terus didorong,” ujarnya.Sabtu (4/4/2026)malam.
Menurutnya, perubahan pola pikir masyarakat menjadi kunci utama dalam mengatasi persoalan lingkungan tersebut. Ia mengajak warga untuk mulai dari langkah paling sederhana, yakni pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga. Mulai dari memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik, hingga menjaga kebersihan lingkungan sekitar.
Faisal juga menekankan pentingnya keberanian masyarakat untuk terlibat aktif dan tidak bersikap pasif. Ia menilai, jika hanya mengandalkan pemerintah tanpa adanya dukungan warga, maka persoalan sampah akan terus berulang tanpa solusi yang nyata.
“Kalau kita hanya menunggu, masalah ini tidak akan selesai. Masyarakat harus berani bersikap dan ikut membantu pemerintah dalam memerangi sampah, dimulai dari lingkungan keluarga yang paling kecil,” tegasnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat merupakan kunci dalam menyelesaikan persoalan kota yang kompleks. Semangat gotong royong, menurutnya, harus kembali dihidupkan sebagai budaya bersama dalam menjaga kebersihan lingkungan.
“Bergandengan tangan itu lebih indah dalam memecahkan sebuah permasalahan. Kalau semua bergerak, saya yakin persoalan sampah di Banjarmasin bisa kita tekan,” tambahnya.
Reses tersebut pun diharapkan tidak hanya menjadi ajang seremonial penyerapan aspirasi, tetapi mampu melahirkan langkah konkret yang melibatkan seluruh elemen, baik pemerintah maupun masyarakat. Dengan meningkatnya kesadaran kolektif, persoalan sampah yang selama ini menjadi momok di Kota Banjarmasin diharapkan dapat berangsur teratasi secara berkelanjutan.(benk/iniberita).
