INIBERITA.id, BANJARMASIN- Kota Banjarmasin yang selama ini, dikenal sebagai Kota Seribu Sungai, kembali menghadapi persoalan yang seolah tak pernah selesai, genangan air di hampir seluruh sudut kota saat musim hujan tiba. Memasuki bulan Desember, kombinasi antara air pasang sungai dan curah hujan yang tinggi, membuat sejumlah kawasan mengalami genangan yang mengganggu aktivitas masyarakat.
Kondisi ini, diperparah oleh infrastruktur drainase yang dinilai tidak berfungsi sebagaimana mestinya, banyak saluran air yang tersumbat, rusak bahkan tidak terhubung, dengan baik ke sistem pembuangan utama. Di berbagai titik, air terlihat stagnan dan tidak mengalir, menandakan adanya ketidakefektifan, dalam sistem pengendalian banjir mikro di perkotaan.
Ironisnya, proyek perbaikan dan rehabilitasi drainase yang dilakukan pemerintah kota juga mendapat sorotan, beberapa pekerjaan disebut tidak memenuhi standar teknis, dikerjakan asal-asalan, tanpa perencanaan matang. Kondisi ini membuat hasil perbaikan, tidak memberikan dampak nyata, bagi pengurangan genangan, bahkan di beberapa lokasi justru memperburuk keadaan.
Pemerhati kota Isai Panantulu SH MH secara tegas mengkritik, langkah khususnya Dinas PUPR yang dinilai tidak memiliki perencanaan komprehensif, dalam menangani persoalan drainase.
“Setiap pekerjaan perbaikan harus dihitung secara matang, baik dari segi desain, kapasitas saluran, maupun metode pelaksanaannya. Jika drainase tidak direncanakan dengan benar dan dikerjakan dengan kualitas buruk, maka wajar saja Banjarmasin tergenang setiap musim hujan,”tegasnnya. Selasa (9/12/2025).
Isai menilai bahwa persoalan ini, bukan sekadar masalah teknis di lapangan, tetapi juga menyangkut manajemen perencanaan yang kurang profesional. Menurutnya, sebelum melaksanakan pekerjaan, seharusnya dilakukan kajian hidrologi dan pemetaan titik rawan genangan. Tanpa data tersebut, perbaikan hanya menjadi proyek rutin tanpa solusi jangka panjang.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa genangan yang terjadi setiap tahun semestinya menjadi alarm bagi pemerintah kota untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase, termasuk meninjau ulang desain saluran lama yang sudah tidak mampu menampung debit air zaman sekarang.
“Warga Banjarmasin seharusnya mendapat jaminan kenyamanan dan keamanan saat musim hujan, bukan malah terjebak genangan yang terus berulang. Pemerintah perlu serius, bukan sekadar menambal masalah,” tambahnya.
Dikatakan Isai, masyarakat di beberapa kawasan juga mulai mengeluhkan lambatnya penanganan genangan dan kurangnya pemeliharaan rutin saluran air. Mereka berharap ada perubahan nyata, bukan sekadar janji atau perbaikan yang tidak membawa hasil.
Seiring curah hujan yang masih berpotensi meningkat hingga akhir tahun, persoalan drainase Banjarmasin kembali menjadi pekerjaan rumah besar pemerintah. Tanpa langkah konkret dan perencanaan teknis yang matang, kota ini dikhawatirkan akan terus dihantui genangan setiap musim hujan datang.(benk/iniberita).





