Sampah Penyebab Menurunnya Kualitas LH

oleh -52 Dilihat
Wakil Bupati Balangan Supiani saat memeriksa truk sampah akan dioperasionalkan pengangkutan sampah di Balangan

INIBERITA.id, BALANGAN- Wakil Bupati Balangan Supiani menyatakan, sampah salah satu penyebab menurunnya kualitas lingkungan hidup (LH), bukan saja secara estetis namun juga merusak pemandangan dan lebih penting lagi, sampah adalah merupakan salah satu sumber emisi gas rumah kaca.

Menurut orang dua di Pemkab Balangan tersebut, penurunan emisi gas rumah kaca, dari sektor persampahan sangat penting, karena akan terkait dengan upaya menahan gas buang melalui sistem pengelolaan bersiklus, sehingga tidak ada material terbuang menjadi gas.

“Antara lain jenis-jenis gas yang memicu peningkatan suhu bumi atau pemanasan global dan berakibat terjadinya perubahan iklim, salah satu jenis gas rumah kaca yang banyak berasal dari sampah atau limbah adalah gas metana,” kata Supiani kepada awak media di Paringin, Senin(21/3/22).

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Balangan Musa Abdullah mengungkapkan, kegiatan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) tahun 2022 ini, pihaknya laksanakan sesuai dengan tema KLHK tentang kelola sampah, kurangi emisi gas buang dan bangun Proklim.

Baca Juga :   Polda Kalsel Gandeng Tokoh Masyarakat Cegah Bibit Intoleransi dan Radikal di Masyarakat

“Kami libatkan berbagai sektor dalam pengelolaan sampah sesuai arahan dari menteri dan Dirjen Pengelolaan Sampah, bahwa cikal bakal dari pengurangan emisi gas rumah kaca berasal dari kegiatan pengelolaan sampah, yang mana kalau sampah kita terkelola, emisi gas buang yang dibuang ke udara juga akan bisa diturunkan,”ungkapnya.

lebih jauh Musa menjelaskan, pihaknya sudah memulai membuat program-program mitra kerja, yaitu dengan Balangan Coal dan menetapkan satu desa pusat daur ulang yaitu Desa Murung Ilung, Kecamatan Paringin.

Desa tersebut mengembangkan Zero Trash atau nol sampah yang dibuang ke TPA, mereka mengelola pusat daur ulang, dengan memanfaatkan sampah organik, menjadi bubur maggot sehingga menjadi bernilai ekonomi.

“Tadinya sampah organik tidak terkelola hanya dibuang ke TPA, sekarang sudah mereka kelola menjadi pakan dari ulat maggot dan ini menjadi nilai jual tinggi,”jelasnya.(wan/iniberita.id)