Banjarmasin 500 Tahun, Krisis Air Bersih Kembali Menghantui: DPRD Soroti Kinerja PT AM

oleh -607 Dilihat
Foto Istimewa

INIBERITA.id, BANJARMASIN – Krisis air bersih kembali menghantui warga Kota Banjarmasin. Ironisnya, persoalan klasik tersebut terjadi ketika Kota Banjarmasin tengah memasuki momentum bersejarah Hari Jadi ke-500 tahun.

Kondisi ini menuai kritik tajam dari Ketua Komisi II DPRD Kota Banjarmasin, HM Faisal Hariyadi. Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) itu menilai PT AM Bandarmasih semestinya mampu melakukan antisipasi jauh lebih matang terhadap ketersediaan air baku, terutama menghadapi musim kemarau dan potensi intrusi air asin.

Menurut Faisal, krisis air bersih yang terjadi di sejumlah wilayah Banjarmasin bukan persoalan yang datang secara tiba-tiba. Kondisi serupa telah berulang kali terjadi setiap kali kemarau berkepanjangan melanda.

Di tengah krisis tersebut, warga bahkan harus rela mengantre untuk mendapatkan air bersih demi memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Sementara itu, alasan yang disampaikan PT AM Bandarmasih terkait terganggunya pelayanan dinilai masih berkutat pada persoalan yang sama, yakni intrusi air asin serta menurunnya permukaan air sungai yang menyebabkan sumber air baku sulit diolah menjadi air bersih.

Faisal mempertanyakan mengapa persoalan yang berulang tersebut belum mampu diantisipasi melalui strategi jangka panjang.

“Mereka (PT AM) mengaku kondisi ini di luar prediksi dan merupakan sebuah musibah. Tapi menurut saya ini merupakan kegagalan manajemen pengelolaan air baku. Di tengah majunya teknologi, kita seperti jalan di tempat,” tegas Faisal, Sabtu (5/9/2026).

Ia menilai PT AM Bandarmasih tidak boleh hanya mengandalkan pola penanganan ketika krisis sudah terjadi. Perusahaan daerah tersebut, menurutnya, harus mulai membangun sistem yang mampu memprediksi sekaligus mengantisipasi ancaman kekurangan air baku.

Terlebih, persoalan tersebut menyangkut kebutuhan dasar masyarakat yang tidak bisa ditunda.

Banjarmasin 500 Tahun, Krisis Air Bersih Jadi Kado. Faisal juga mengkritisi Pemerintah Kota Banjarmasin sebagai pemilik PT AM Bandarmasih. Menurutnya, pemerintah daerah seharusnya sudah mampu membawa sistem pelayanan air bersih ke level yang lebih baik setelah persoalan serupa berulang selama bertahun-tahun.

Ironisnya, ketika Banjarmasin genap berusia 500 tahun, masyarakat masih dihadapkan pada persoalan mendasar berupa kesulitan memperoleh air bersih.

“Tahun ini Kota Banjarmasin berusia 500 tahun. Tapi pemerintah sebagai owner PT AM Bandarmasih gagal dalam pemenuhan kebutuhan dasar masyarakatnya sendiri. Apakah ini akan menjadi kado yang kita banggakan kepada masyarakat?,” sindirnya.

Menurut Faisal, usia 500 tahun semestinya menjadi momentum bagi pemerintah kota untuk menunjukkan lompatan besar dalam pelayanan publik, bukan justru kembali dihadapkan pada persoalan air bersih yang berulang.

Ia pun meminta Pemko Banjarmasin dan jajaran PT AM Bandarmasih tidak menjadikan kondisi alam sebagai satu-satunya alasan ketika pelayanan terganggu.

Tak hanya persoalan air baku, Faisal mengaku masih menerima laporan mengenai lemahnya distribusi air bersih ke sejumlah wilayah di ujung Kota Banjarmasin, bahkan ketika kondisi pelayanan secara umum berada dalam keadaan normal.

Salah satu persoalan yang dikeluhkan adalah kondisi jaringan perpipaan PT AM Bandarmasih yang sebagian telah berusia tua. Kondisi tersebut membuat tekanan air tidak bisa dinaikkan secara maksimal menggunakan mesin booster karena dikhawatirkan berdampak terhadap jaringan pipa.

Akibatnya, sejumlah kawasan di wilayah ujung kota belum mendapatkan pasokan air bersih secara maksimal.

“Wali Kota Banjarmasin sebagai owner PT AM harus mencari solusi. Jika masalahnya keterbatasan anggaran, ayo duduk bersama kita cari caranya. Apakah nanti kita lakukan peremajaan (pipa) secara berkala per wilayah atau per jalur dulu,” ujarnya.

Faisal menegaskan, persoalan anggaran tidak seharusnya menjadi alasan untuk membiarkan persoalan pelayanan air bersih berlarut-larut.

Menurutnya, pemerintah, DPRD dan PT AM Bandarmasih harus duduk bersama menyusun skema pembenahan yang realistis, termasuk menentukan skala prioritas peremajaan jaringan perpipaan dan penguatan sumber air baku.

“Jangan sampai keterbatasan yang dihadapi justru dijadikan pembenaran untuk pasrah. Ini menyangkut kebutuhan masyarakat yang paling mendasar,” tegasnya.

Ia mengingatkan, jika persoalan tersebut terus ditunda tanpa solusi konkret, kondisi jaringan dan pelayanan air bersih dikhawatirkan semakin memburuk.

“Jangan sampai nanti ketika kondisinya sudah semakin parah, kita baru sibuk mencari solusi. Kalau terus ditunda, kita khawatir justru menjadi terlambat,” pungkas Faisal. (benk/iniberita)