INIBERITA.id, BANJARMASIN – Krisis air bersih mulai menghantui sejumlah kawasan di Kota Banjarmasin. Kemarau panjang yang terjadi saat ini membuat sebagian warga kesulitan mendapatkan pasokan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sejumlah wilayah terdampak antara lain Alalak, Banua Anyar, Kuin Cerucuk, Mantuil dan beberapa kawasan lainnya.
Persoalan tersebut tidak lepas dari kondisi air baku yang semakin sulit diolah. Kemarau panjang menyebabkan permukaan air sungai turun, sementara intrusi air laut membuat kadar garam pada sumber air baku yang digunakan PT Air Minum (AM) Bandarmasih mengalami peningkatan signifikan.
Direktur Utama PT AM Bandarmasih Zulbadi sebelumnya menyampaikan, bahwa kadar garam air baku mengalami lonjakan hingga mencapai 2.119 parts per million (ppm) akibat intrusi air laut di tengah puncak musim kemarau.
Kondisi itu bahkan memaksa PT AM Bandarmasih menghentikan sementara operasional Intake Sungai Bilu lantaran kualitas air baku dinilai tidak memungkinkan untuk diproses dalam kondisi normal.
Dampaknya langsung dirasakan masyarakat. Warga di sejumlah kawasan harus mengantre dan menunggu distribusi bantuan air bersih menggunakan mobil tangki.
Di tengah kondisi tersebut, Ketua Komisi II DPRD Kota Banjarmasin HM Faisal Hariyadi mengaku prihatin, Menurutnya, persoalan air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang tidak boleh hanya direspons dengan pola penanganan darurat setiap kali musim kemarau datang.
Faisal mengatakan dirinya memahami kondisi yang sedang dihadapi PT AM Bandarmasih. Namun, pemahaman tersebut tidak berarti persoalan bisa dibiarkan berlarut-larut tanpa langkah konkret.
“Untuk jangka pendek, seharusnya PT AM bisa menyosialisasikan secara masif bagaimana cara agar warga mendapatkan distribusi air bersih,” ujar Faisal saat dihubungi, Sabtu (5/9/2026).
Menurutnya, persoalan lain yang muncul di lapangan adalah masih banyak warga yang kebingungan mengenai mekanisme mendapatkan suplai air bersih.
Informasi mengenai cara mengajukan permintaan, ke mana harus menghubungi, hingga berapa biaya yang harus dibayarkan untuk satu tangki air dinilai belum tersampaikan secara merata kepada masyarakat.
Akibat minimnya informasi yang jelas, sebagian warga terpaksa mengandalkan jaringan pertemanan atau koneksi pribadi untuk mendapatkan kiriman air bersih melalui mobil tangki.
“Jangan sampai warga harus mencari informasi dari mulut ke mulut. Harus ada informasi yang jelas dari PT AM, mulai dari cara meminta bantuan, nomor yang bisa dihubungi, sampai tarif atau harga air per tangki,” tegasnya.
Faisal menilai, informasi yang tidak terpusat berpotensi menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat, terutama bagi warga yang benar-benar membutuhkan air bersih tetapi tidak memiliki akses atau jaringan untuk memperoleh distribusi.
Selain memperbaiki sistem informasi, Faisal juga mendorong PT AM Bandarmasih mempercepat distribusi dengan melibatkan lebih banyak pihak.
Salah satu opsi yang dinilainya bisa dilakukan adalah menggandeng relawan pemadam kebakaran yang memiliki armada mobil tangki, termasuk kelompok Balakar 654 Banjarmasin.
Menurutnya, kolaborasi tersebut dapat menjadi solusi untuk mempercepat pendistribusian air bersih ke permukiman warga yang terdampak.
“Kalau armada tangki diperbanyak, waktu tunggu masyarakat bisa dipangkas. PT AM bisa menggandeng relawan Damkar yang memiliki mobil tangki, seperti Balakar 654 Banjarmasin,” ujarnya.
Namun, Faisal menegaskan bahwa langkah darurat tersebut tidak boleh menjadi solusi permanen.
Menurutnya, PT AM Bandarmasih harus mulai memikirkan strategi jangka panjang untuk menghadapi persoalan air baku, terlebih kemarau dan intrusi air laut bukan fenomena yang sama sekali baru bagi Kota Banjarmasin.
Sebagai perusahaan milik Pemerintah Kota Banjarmasin, PT AM Bandarmasih dinilai harus berani melakukan inovasi, baik dari sisi teknologi maupun pengelolaan sumber air baku.
Salah satu opsi yang menurut Faisal patut dikaji adalah pengembangan teknologi pengolahan air dengan kadar garam tinggi menjadi air baku yang layak diproses.
Selain itu, pembangunan lebih banyak embung atau sarana penyimpanan air baku juga dapat dipertimbangkan sebagai langkah antisipasi ketika musim kemarau berlangsung panjang.
“Kemarau ini bukan hal baru. PT AM dan dalam hal ini Wali Kota Banjarmasin sebagai owner harus berinovasi. Jangan sampai kondisi ini menjadi alasan klasik yang terus diulang-ulang setiap kemarau datang,” tegas Faisal.
Ia menilai, krisis air bersih harus menjadi momentum bagi Pemerintah Kota Banjarmasin dan PT AM Bandarmasih untuk mengevaluasi sistem penyediaan air baku, sekaligus menyiapkan langkah antisipasi yang lebih terukur.
Pasalnya, masyarakat tidak bisa terus-menerus menjadi pihak yang menanggung dampak ketika kualitas air baku terganggu.
Faisal pun berharap Wali Kota Banjarmasin dapat memberikan dorongan kuat kepada PT AM Bandarmasih, agar segera mencari solusi yang lebih permanen.
Menurutnya, penyediaan air bersih merupakan bagian dari pelayanan dasar pemerintah kepada masyarakat. Karena itu, persoalan tersebut harus mendapatkan perhatian serius dan tidak cukup hanya ditangani melalui distribusi air tangki ketika krisis terjadi.
“Harapan kami, pemerintah kota bersama PT AM benar-benar mencari jalan keluar. Masyarakat membutuhkan kepastian bahwa kebutuhan air bersih mereka tetap terpenuhi, bukan hanya ketika terjadi krisis, tetapi juga untuk menghadapi kondisi serupa di masa mendatang,” pungkasnya.(benk/iniberita).
