Hendra PKS Soroti Program 3R di Banjarmasin: Jangan Sekadar Angkut Sampah, Edukasi Warga Masih Gagal Total

oleh -1516 Dilihat
Anggota DPRD Kota Banjarmasin dari Fraksi PKS, Hendra saat melakukan reses ke masyarakat Sungai Andai.

INIBERITA.id, BANJARMASIN – Anggota DPRD Kota Banjarmasin dari Fraksi PKS, Hendra memanfaatkan kegiatan Reses Masa Sidang II Tahun 2026 untuk kembali bertemu dan menyerap aspirasi masyarakat di RT 05, Kelurahan Sungai Andai, Kecamatan Banjarmasin Utara. Senin (13/72026).

Dalam kesempatan tersebut, Hendra tidak hanya mendengarkan berbagai keluhan warga, tetapi juga menyoroti pelaksanaan program Reduce, Reuse, Recycle (3R) yang dinilainya masih jauh dari tujuan awal.

Hendra mengungkapkan, sebelumnya ia telah berhasil memperjuangkan, agar program 3R dapat diterapkan di lingkungan Komplek Hudair. Namun, menurutnya, keberhasilan menghadirkan program tersebut, harus dibarengi dengan pembenahan fasilitas umum dan infrastruktur pendukung, agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

“Program ini sudah masuk dalam pokok-pokok pikiran (Pokir) DPRD dan hingga kini terus kami perjuangkan. Tetapi ketika program sudah berjalan, tentu seluruh sarana dan infrastrukturnya juga harus dibenahi agar hasilnya maksimal,” ujarnya.

Ia menilai, persoalan terbesar saat ini bukan hanya pada fasilitas, tetapi juga pada pelaksanaan di lapangan. Menurut Hendra, petugas 3R belum menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Mereka dinilai lebih banyak berperan layaknya petugas kebersihan, dibanding sebagai tenaga edukasi yang mampu mengubah pola pikir masyarakat dalam mengelola sampah.

“Petugas 3R seharusnya bukan sekadar mengangkut sampah atau membuat laporan. Mereka harus menjadi edukator yang aktif memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya memilah dan mengelola sampah dari sumbernya. Kalau fungsi ini tidak berjalan, tujuan program tentu sulit tercapai,” tegasnya.

Hendra mengaku, dirinya mulai meragukan efektivitas program 3R, apabila kondisi tersebut terus dibiarkan. Menurutnya, implementasi di lapangan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dibanding sistem pengelolaan sampah pada masa sebelumnya.

“Kalau melihat kondisi sekarang, saya jadi bertanya apakah program ini benar-benar berjalan sesuai konsep atau tidak. Karena yang terlihat di lapangan, fungsinya hanya seperti petugas kebersihan biasa. Padahal konsep 3R jauh lebih luas dan lebih kompleks daripada sekadar mengangkut sampah,” katanya.

Ia juga menyoroti kompetensi sumber daya manusia yang menjalankan program tersebut. Menurutnya, kemampuan petugas harus sesuai dengan kebutuhan program, terutama dalam hal komunikasi dan edukasi kepada masyarakat.

“Harus ada kesesuaian antara kompetensi petugas dengan kebutuhan program. Kalau kemampuan komunikasinya belum memadai, bagaimana mereka bisa memberikan edukasi yang efektif kepada masyarakat. Jangan sampai pesan yang ingin disampaikan tidak pernah benar-benar diterima warga,” ujarnya.

Hendra mengatakan, jika kondisi tersebut tidak segera diperbaiki, maka petugas 3R hanya akan menjadi simbol keberadaan program tanpa memberikan dampak nyata, terhadap penyelesaian persoalan sampah di Kota Banjarmasin.

“Jangan sampai petugas 3R hanya menjadi agen formalitas. Kalau pola seperti ini terus berlangsung, saya khawatir status darurat sampah di Banjarmasin tidak akan pernah benar-benar teratasi,” katanya.

Melalui kegiatan reses tersebut, Hendra menjelaskan, terus mengajak masyarakat memahami pentingnya pengelolaan sampah sejak dari rumah. Ia menilai perubahan perilaku masyarakat, merupakan salah satu kunci utama, dalam menyelesaikan persoalan sampah secara berkelanjutan.

Karena itu, ia meminta Pemerintah Kota Banjarmasin segera melakukan evaluasi menyeluruh, terhadap pelaksanaan program 3R, mulai dari sistem kerja, kualitas sumber daya manusia, hingga mekanisme pelaksanaannya di lapangan.

“Program ini harus dievaluasi secara menyeluruh. Saya melihat masih ada ketidaksesuaian antara konsep yang dirancang dengan implementasinya di lapangan. Jika tidak segera dibenahi, maka tujuan besar pengelolaan sampah berbasis 3R akan sulit tercapai,” pungkasnya. (benk/iniberita).