Jembatan Gantung Miliaran CUSA Tak Berfungsi, Warga Geram : Harapan Urai Macet Berujung Kekecewaan

oleh -1777 Dilihat
Teks foto, Ketua RW 01 Masrani dan proyek yang kunjung selesai.

INIBERITA.id, BANJARMASIN – Kekecewaan mendalam dirasakan warga Kelurahan Sungai Andai, Kecamatan Banjarmasin Utara, terhadap proyek mega pembangunan Jembatan Gantung Cemara Ujung dan Sungai Andai (CUSA). Jembatan yang digadang-gadang menjadi solusi utama untuk mengurai kemacetan kronis di kawasan tersebut, hingga kini belum juga berfungsi, meski telah menelan anggaran miliaran rupiah dari keuangan daerah.

Kemacetan di Sungai Andai selama ini, menjadi persoalan serius yang dikeluhkan masyarakat. Setiap hari, terutama pada jam-jam sibuk, arus lalu lintas kerap tersendat, akibat tingginya volume kendaraan yang tidak diimbangi, dengan ketersediaan jalur alternatif. Atas dasar itulah warga mengusulkan pembangunan jembatan sebagai akses penghubung baru untuk memecah kepadatan arus lalu lintas.

Ketua RW 01 Kelurahan Sungai Andai, Masrani, mengungkapkan bahwa aspirasi pembangunan jembatan tersebut, murni berasal dari kebutuhan warga. Usulan itu disampaikan secara konsisten selama bertahun-tahun, melalui berbagai forum resmi, mulai dari rapat Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) di tingkat kelurahan hingga kecamatan, serta melalui agenda reses anggota DPRD Kota Banjarmasin.

“Harapan kami sederhana. Jembatan ini bisa dilewati kendaraan roda dua dan roda empat, sehingga kemacetan bisa terpecah. Warga sangat berharap proyek ini benar-benar menjadi solusi, bukan sekadar pembangunan fisik tanpa fungsi,” ujar Masrani. Rabu (14/1/2026).

Namun, harapan tersebut kini berubah menjadi kekecewaan. Hingga saat ini, jembatan gantung yang telah berdiri megah itu, belum dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Tidak adanya kejelasan waktu pengoperasian semakin menambah keresahan warga yang merasa dirugikan oleh kondisi tersebut.

“Sudah dibangun, dananya besar, tapi warga belum bisa menikmati. Sampai sekarang pun tidak ada kepastian kapan jembatan ini bisa digunakan,” tegas Masrani.

Ia menyebutkan, salah satu kendala utama yang disoroti warga, adalah belum rampungnya pembangunan oprit atau jalan pendekat, sebagai fasilitas penunjang utama jembatan. Tanpa oprit yang layak, jembatan tersebut mustahil difungsikan sesuai tujuan awal.

Masrani menilai, kondisi ini mencerminkan lemahnya perencanaan dan pengawasan proyek. Ia mendesak Pemerintah Kota Banjarmasin melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk segera mengambil langkah konkret, sekaligus meminta DPRD Kota Banjarmasin, agar menjalankan fungsi pengawasan secara maksimal.

“Kami berharap pembangunan oprit segera dituntaskan atau dievaluasi secara serius. Jangan sampai proyek ini berhenti setengah jalan. Pemko dan DPRD harus bertanggung jawab,” katanya.

Lebih jauh, Masrani menegaskan, bahwa warga tidak ingin ikut campur, dalam urusan teknis pelaksanaan proyek maupun hukum, karena hal tersebut merupakan ranah instansi terkait. Namun, masyarakat menuntut. agar anggaran miliaran rupiah yang telah digelontorkan benar-benar memberikan manfaat nyata bagi publik.

“Masalah teknis dan hukum itu urusan dinas. Tapi sebagai warga Sungai Andai, kami sangat menyayangkan jika jembatan dengan dana miliaran rupiah hanya menjadi pajangan dan tidak memberi dampak apa pun bagi pengurangan kemacetan,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan, kekecewaan warga berpotensi, berubah menjadi ketidakpercayaan, terhadap program pembangunan pemerintah, apabila persoalan ini terus dibiarkan tanpa kejelasan. Menurutnya, pembangunan infrastruktur, seharusnya berpihak pada kebutuhan masyarakat dan diselesaikan hingga tuntas, bukan sekadar mengejar serapan anggaran.

“Kalau seperti ini, wajar kalau warga bertanya untuk siapa sebenarnya jembatan ini dibangun,”ungkap Masrani.(benk/iniberita).