INIBERITA.id, BALANGAN – Menghadapi tren peningkatan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Balangan, Universitas Sapta Mandiri (Univsm) mengambil langkah proaktif dengan menggelar pelatihan intensif bertema pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS. Kegiatan ini berlangsung di Aula Kampus Univsm dan diikuti tenaga kesehatan, mahasiswa, perwakilan komunitas, serta tokoh masyarakat. Rabu (5/11/2025).
Pelatihan ini bertujuan memutus rantai misinformasi yang masih marak di masyarakat, sekaligus meningkatkan pemahaman tentang cara penularan, risiko, dan langkah penanganan HIV/AIDS secara benar dan ilmiah.
Graha Eka Satria, narasumber dari Dinas Kesehatan Balangan, memaparkan secara rinci perbedaan mendasar antara HIV dan AIDS dua istilah yang sering disalahartikan.
“HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, sedangkan AIDS merupakan kumpulan gejala atau kondisi yang muncul akibat kerusakan berat pada sistem imun. Orang yang terinfeksi HIV belum tentu langsung mengalami AIDS, tetapi mereka yang sudah masuk fase AIDS pasti terinfeksi HIV,” jelasnya.
Graha juga menyoroti meningkatnya kekhawatiran akibat kenaikan kasus HIV/AIDS di Balangan, termasuk pada kelompok populasi kunci yang menjadi perhatian dalam epidemiologi HIV.
Ia menegaskan pentingnya deteksi dini, mengingat HIV kerap tidak menunjukkan gejala selama bertahun-tahun.
“Seseorang yang baru tertular HIV bisa tidak terdeteksi positif selama tiga bulan pertama. Banyak pula kasus di mana orang terlihat sehat selama 5 hingga 10 tahun, padahal virus terus merusak sistem kekebalan. Kondisi tanpa gejala inilah yang membuat penularan semakin berisiko,” ujarnya.
Siti Hajar, mahasiswi FKIP Univsm yang mengikuti pelatihan, mengaku mendapatkan pemahaman baru yang belum banyak dipahami masyarakat.
“Selama ini banyak orang menganggap HIV dan AIDS sama. Setelah mengikuti pelatihan, kami memahami bahwa HIV adalah virusnya, sementara AIDS adalah stadium lanjutnya ketika imun sudah rusak parah. Informasi bahwa orang bisa tampak sehat bertahun-tahun padahal positif HIV membuat kami lebih sadar pentingnya edukasi dan pencegahan,” ungkapnya.
Pihak kampus menyatakan akan terus memperluas kegiatan edukasi serupa untuk menekan stigma, membuka akses informasi yang benar, serta mendorong masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan reproduksi dan pencegahan HIV/AIDS.





