BPBD Balangan Tegaskan Banjir Bandang Tebing Tinggi Murni Akibat Cuaca Ekstrem, Bukan Tambang atau Sawit

oleh -1604 Dilihat
Teks foto (Istimewa). Banjir bandang yang melanda wilayah Tebing Tinggi murni disebabkan oleh faktor alam berupa curah hujan ekstrem.

INIBERITA.id, BALANGAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Balangan menegaskan bahwa banjir bandang yang melanda wilayah Tebing Tinggi murni disebabkan oleh faktor alam berupa curah hujan ekstrem, bukan akibat aktivitas pertambangan maupun perkebunan kelapa sawit seperti isu yang berkembang di masyarakat.

Kepala Pelaksana BPBD Balangan H Rahmi menjelaskan, bahwa berdasarkan data resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Selatan, wilayah tersebut diguyur hujan dengan intensitas sangat tinggi dalam waktu singkat.

Menurutnya, secara geografis kawasan Tebing Tinggi yang berada di daerah pegunungan memang memiliki keterbatasan daya serap tanah terhadap volume air dalam jumlah besar secara mendadak.

“Kapasitas hujan untuk setengah bulan, tapi ditumpahkan hanya dalam satu malam. Jadi kondisi pegunungan kita tidak bisa menampung peresapan air secepat itu,” ujarnya.

Rahmi menambahkan, intensitas hujan ekstrem tersebut menyebabkan debit air meningkat drastis dan memicu aliran deras dari kawasan hulu menuju permukiman warga. Situasi ini diperparah oleh kontur wilayah yang berbukit sehingga air dengan cepat mengalir ke dataran rendah.

Menanggapi isu yang mengaitkan banjir dengan aktivitas tambang di kawasan hulu, ia menegaskan bahwa hasil pengecekan berdasarkan peta wilayah menunjukkan tidak adanya aktivitas pertambangan maupun perkebunan sawit di titik terdampak. Klarifikasi tersebut juga diperkuat oleh pantauan Tim Penegakan Hukum (Gakkum) dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Pihak kementerian, lanjutnya, bahkan telah mengerahkan tim serta memanfaatkan bantuan citra satelit untuk memeriksa kemungkinan kerusakan ekologis. Namun hingga saat ini tidak ditemukan indikasi adanya aktivitas tambang ilegal ataupun pembukaan lahan sawit di kawasan tersebut.

“Kalau ada penebangan atau aktivitas tambang, biasanya material kayu atau lumpur berat ikut terbawa arus. Dampaknya pasti lebih parah karena kayu bisa menghantam rumah warga. Tapi berdasarkan kesaksian warga, yang datang hanya air dengan arus sangat deras,” jelas Rahmi.

Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Balangan melalui BPBD memastikan akan tetap melakukan penyelidikan secara profesional terhadap setiap dugaan yang muncul di tengah masyarakat. Transparansi dan akurasi data, kata Rahmi, menjadi prioritas agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi.

Untuk sementara, hasil analisis menunjukkan bahwa fenomena cuaca ekstrem menjadi faktor utama dan tunggal di balik terjadinya banjir bandang di Tebing Tinggi. Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem susulan, mengingat kondisi iklim yang masih belum stabil dalam beberapa waktu ke depan.(wan/iniberita).