INIBERITA.id, BANJARMASIN – Harapan mahasiswa untuk membuka ruang dialog dengan pimpinan DPRD Provinsi Kalimantan Selatan berakhir dengan kekecewaan. Ketidakhadiran Ketua DPRD Kalsel, Supian HK, dinilai menjadi penyebab utama gagalnya dialog dalam aksi demonstrasi yang digelar di depan Gedung DPRD Kalsel, Kamis (15/1/2026).
Sejak awal, massa aksi diminta menunggu kehadiran pimpinan DPRD untuk melakukan dialog secara terbuka di dalam gedung. Namun hingga waktu yang dijanjikan, Ketua DPRD tidak kunjung hadir. Dari unsur DPRD, hanya anggota Komisi III, Rosehan Noor Bahri, yang menemui mahasiswa.
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Lambung Mangkurat, Aji Jayadi, menegaskan bahwa mahasiswa tidak menuntut banyak hal selain kehadiran Ketua DPRD untuk berdialog langsung dan setara.
“Kami hanya ingin Ketua DPRD, Pak Supian HK, hadir dan membuka dialog di dalam ruangan DPRD. Tetapi yang datang hanya Pak Rosehan sebagai anggota Komisi III. Ini jelas tidak sesuai dengan yang kami harapkan,” tegas Aji.
Kekecewaan yang memuncak membuat situasi memanas. Aksi sempat diwarnai ketegangan hingga berujung ricuh dan menyebabkan empat orang mengalami luka-luka. Penyalaan api oleh massa aksi disebut sebagai simbol kemarahan, kesedihan, dan bentuk protes atas tertutupnya ruang dialog yang seharusnya menjadi tanggung jawab pimpinan lembaga legislatif.
Mahasiswa menilai absennya Ketua DPRD sebagai bentuk pengabaian terhadap aspirasi publik Kalimantan Selatan. Dalam tuntutannya, mahasiswa meminta sikap tegas dan tanggung jawab dari Kapolda Kalimantan Selatan serta pimpinan DPRD Kalsel atas insiden yang terjadi.
Sebagai bentuk tekanan politik dan moral, mahasiswa memberikan tenggat waktu dua hingga tiga hari bagi pihak terkait untuk menyampaikan respons resmi. Jika tidak ada kejelasan sikap, mahasiswa menyatakan siap mengonsolidasikan gerakan lanjutan dengan eskalasi aksi yang lebih besar.(silvi/iniberita).







